Try new experience
with our app

INSTALL

Daster Untuk Emak 

Chapter 1

  Marni berlari dari jalan raya menuju rumahnya, menyusuri gang sempit. Terus saja dia berlari, hanya satu tekadnya bertemu dengan orang tua satu-satunya yang telah lama tidak dia temui. Marni telah bertahun-tahun lamanyameninggalkan rumah. Mengadu nasib di negara orang. Semua hanya demi status sosial dan juga membahagiakan orang tuanya.

  Namun, semua harapan dan cita-cita awal hanya sebuah kata-kata. Semua telah berubah. Kerja yang sibuk telah menggeserkan niatnya. Dulu, dia pikir setiap saat bisa mengambil cuti atau mengirimkan uang kepada ibunya. Gaji yang besar telah membutakan ternyata. Pergaulan dan gaya hidup di negara orang, telah menjadikan dia gelap mata. Uang gaji selalu habis untuk mempercantik diri. Membeli baju-baju mahal, menyesuaikan trend yang ada.

  Apalagi setelah dia mendapatkan kekasih. Bule Pakistan. Seolah menghanyutkan hidupnya. Sedikit demi sedikit dia tidak sadar kalau sudah dimanfaatkan. Uang tabungan terkuras. Ibu yang di desa merana, karena anak yang dia harapkan memberi sebagian gajinya untuk kehidupan di hari tua tidak kunjung datang.

  Rumah tua itu masih tetap, tidak ada bedanya. Justru makin reot saja. Marni hanya tertegun di depan pintu. Sepi, seperti tidak berpenghuni. Pintu diketuk beberapa kali, masih saja tidak ada sahutan dari dalam. Jendela yang terbuka sedikit, segera dia mengintip dari sela-sela terbuka. Sama ... sepi

“Marni? Kowe Marni, Nduk[1]?” tanya tetangga Mbah Binah, ibu Marni. 

Marni menoleh, memandang ke arah suara. Perempuan paruh baya dengan kebaya dan jarik membalut tubuhnya, telah berdiri di hadapan, terbengong melihat Marni

“Lek Sanah!” Marni mencium punggung tangan wanita tersebut.

“Gusti Allah, kowe wes bali, Nduk! Ibumu kangen, bertahun-tahun ora kerungu kabarmu[2],” katanya lagi.

“Emak, teng pundi Lek[3], kok sepi? “ tanya Marni.

  Lek Sanah terdiam, pandangannya nanar. Seperti menutup sesuatu. Marni semakin gusar dan mendesak untuk diberitahu di mana sebenarnya ibunya berada. Tas koper besar yang dibawanya diletakkan di bawah. Capek seharian menenteng, sejak dari bandara tadi pagi. Jarak bandara ke rumahnya memang agak jauh. Bisa lima jam perjalanan.

“Lek, jenengan kok mendel mawon. Mak teng pundi![4]” Terus saja dia mendesak. Sambil mengguncang tubuh wanita tersebut.

  “Mbah Binah ... meninggal wes selapan iki![5]” jawabnya terbata. Air matanya tiba-tiba mengalir dari sudut mata tuanya. Seketika tubuh Marni terguncang, gemetar. Bungkusan yang dia bawa, untuk ibunya jatuh di lantai. Lemas kakinya, terduduk bersimpuh.

[1]Marni? Kamu Marni, Nak?

[2]Gusti Allah, kamu sudah pulang Nak! Ibumu kangen, bertahun-tahun tidak dengar kabarmu.

[3]Emak, kemana Lek

[4]Lek, kok diam saja? Emak di mana?

[5]Mbah Binah sudah meninggal … sudah selapan (35 hari)!