Try new experience
with our app

INSTALL

Daster Untuk Emak 

Chapter 2

  Lek Sanah mengangkat tubuh Marni. Membuka pintu rumah, mengajak dia masuk. Selama ini dia yang menjaga rumah Marni. Sebelum meninggal ibunya Marni berpesan, suatu saat jika anaknya pulang, untuk membukakan pintu dan memberikan rumah ini untuk anaknya.

  Marni duduk di bangku tua, yang warna juga sudah pudar. Kursi kayu beralaskan karet itu hampir reot, karetnya juga sudah lepas tidak karuan. Lek Sanah duduk di sebelah Marni. Mulailah bercerita kejadian selama ini.

***

Setelah kepergian anaknya, Mbah Binah tetap bekerja seperti biasa. Jualan gorengan dan es di depan rumah. Namun, lama kelamaan jualannya sepi. 

  Mungkin pembeli mulai beralih ke penjual yang lain, yang lebih beragam jualannya. Tubuh yang semakin tua dan sakit-sakitan mengakibatkan Mbah Binah tidak bisa segesit dulu. Terkadang entah karena lelah atau apa, menggoreng bakwan, pisang sering gosong. Mengakibatkan dagangannya tidak seenak dulu, pembeli pun satu demi satu mulai menjauh.

  Harapan dia untuk menyambung hidup hanya kiriman uang dari anaknya. Apalagi dia hidup sebatang kara, setelah kepergian Marni. Semua tinggal harapan, sebulan, dua bulan, hingga bertahun-tahun uang kiriman Marni tidak kunjung datang. Bolak-balik ke kelurahan menanyakan apa ada wesel dari anaknya, tapi nihil.

  Maklumlah Mbah Binah tinggal di desa terpencil. Jadi untuk surat menyurat ataupun wesel masih tertuju ke kelurahan setempat. Biasanya orang kelurahan yang akan menyampaikan. Kesedihan itu semakin berlanjut. Untuk makan sehari-hari, beruntunglah tetangga masih ada yang memberi makan ala kadarnya.

  Mbah Binah makin rindu anaknya, pernah dia nekat ke kota, mencari agen tenaga kerja yang memberangkatkan anaknya ke Taiwan. Namun, semua sia-sia. Keberadaan anaknya tidak diketahui. Suatu hari demam menggerogoti tubuhnya. Dia hanya bisa meringkuk dalam kamar saja. Sepi ... tiada orang yang menemani. Sesekali Lek Sanah yang rumahnya bersebelahan, menengok di sela-sela kesibukan mengurus rumah.

  Segala keluh kesah dia sampaikan kepada Lek Sanah. Tentang kerinduan dan kekecewaan sikap anaknya. Mungkin dia merasa anak telah membuangnya. Padahal TKW yang lain, sering mengirim uang kepada orang taunya. Kebetulan ada beberapa anak tetangga yang jadi TKW. Mereka juga pernah pulang saat lebaran. Sesekali Mbah Binah bertanya kepada mereka, tapi belum satupun memberi info keberadaan Marni. Kata mereka beda tempat.