Try new experience
with our app

INSTALL

Daster Untuk Emak 

Chapter 3

  Hingga akhirnya tubuh tua itu melemah dan menyerah. Menutup usia dengan goresan kerinduan dan kekecewaan. Namun, dia berpesan sudah memaafkan anaknya. Hanya ingin anaknya pulang, merawat rumahnya ketika dia telah tiada. Keinginannya satu, mendapatkan sebuah daster bunga-bunga merah maroon. Itulah keinginan terakhirnya. Mbah Binah sudah lama ingin punya daster tersebut. Pernah melihatnya terpanjang di sebuah toko yang ada di pasar legi.

  Keinginan yang sederhana sebenarnya, tapi sayang, tidak pernah tersampaikan sampai menutup mata. Lek Sanah bercerita sambil menyeka air mata. Sungguh malang nasib tetangganya itu. 

Marni yang mendengar cerita Lek Sanah, histeris meraung. Menyesali nasibnya. Karena cinta telah membuat mata hatinya buta.

  Hanya karena nafsu mencintai orang Pakistan, membuat hidup berantakan. Ibunya merana, tidak terurus. Dia juga sama, setelah habis semua, sampai majikan juga mengusirnya. Gara-gara desakan kekasih akhirnya dia berani mencuri. Beruntung tidak di penjarakan. 

  Kini dia pulang dengan penyesalan yang mendalam. Kesedihan dan air mata. Malu dengan tetangga sesama TKW, tapi mampu membahagiakan orang tua mereka. Demi sebuah ambisi memporak-porandakan mimpi dan harapan.

  Sore itu juga Marni menuju makamibunya. Membawa bungkusan kado daster sesuai permintaan sang Ibu. Menangis tersedu di nisan. Meletakkan kado daster yang telah terbungkus rapi. Kebetulan ini tepat hari ulang tahun ibunya.

  “Mak ... maafkan anakmu yang tidak tahu diri ini, aku menyesal telah menelantarkan ibu yang selalu menyayangi sepenuh hati. Ini aku bawakan daster sesuai keinginan Emak. Semoga Allah menerima segala amal perbuatan kebaikanmu.”

  Marni berdoa dengan sepenuh hati, berjanji akan memperbaiki diri lebih baik lagi. Akan meneruskan hidup di desa, sesuai pesan ibunya. Tidak akan mengulang kerja ke Taiwan walau gajinya menggiurkan. Di sini, desa Pranten tercinta. Menjaga rumah peninggalan keluarga dan juga akan selalu merawat makam ibunya.

***

-Beberapa bulan kemudian.

  Marni kini bekerja di sebuah pabrik dekat rumahnya, hijrah menjadi wanita muslimah seutuhnya. Menjaga rumah peninggalan orang tua. Hidupnya jauh lebih baik, dekat dengan Tuhan. Selalu menyempatkan mengaji. Lantunan suara dalam membaca Al-Qur’an terdengar merdu. Seminggu sekali menjenguk ke makan sang ibu. Doa selalu tidak lupa setiap dia salat. Wajahnya makin bersinar. 

  Suatu hari, pemuda sebrang desa melihatnya. Lewat seorang teman, mereka bertemu. Tanpa pacaran akhirnya pemuda saleh itu menyuntingnya. Hati Marni berbunga-bunga. Subhanallah janji Allah memang nyata. Semakin dia perbaiki diri, semakin dekat pula jodoh lelaki saleh untuknya. Akhirnya di tentukanlah hari bahagia itu.

  Malam ini, Marni tidur lebih awal. Dia sangat bahagia sekali. Akhirnya sebentar lagi akan menikah. Menjadi seorang istri. Saat terlelap, datanglah Mak Binah dalam mimpinya. Beliau tersenyum, seakan memberi pancaran kebahagiaan.

Terlihat Mak Binah mengelus lembut kepala anaknya. Lirih dia berkata.

  “Nduk, kowe wes bali. Aku seneng, matur suwun kadone. Daster e apik, Nduk. Pas tak enggo. Tak restui pernikahanmu. Asep kui pemuda seng saleh. Mugo-mugo dadi keluarga seng sakinah, mawadah, warohmah.[6]

“Mak ... jenengan kondur?[7] Beneran ini Mak! Subhannallah, akhirnya bisa memeluk Emak,” ucap Marni sembari memeluk erat ibunya. 

[6]Nak, kamu sudah pulang. Aku senang, terima kasih kadonya. Dasternya bagus, nak. Pas kupakai. Kurestui pernikahanmu. Asep itu pemuda saleh. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. 

[7]Emak, pulang?