Try new experience
with our app

INSTALL

Usai 

Chapter III

  Suara bel berbunyi, anak-anak sekolah mulai ramai berlarian menuju gerbang sekolah, suara motor mulai bergemuruh. Tepat setelah gerbang sekolah mulai sepi dan hujan masih mengalir deras Aska yang saat itu masih duduk dibangku sekolah sedang berdiri sambil mendengarkan musik dengan earphonenya. Tanpa disadari oleh aska, Leviosa yang juga bersekolah dengan Aska berlari kearahnya dan berteduh disampingnya.

Kikuk karena menunggu hujan reda hanya berdua, Leviosa mencoba bersenandung dan membuka pembicaraan kepada Aska.

“gue gak percaya bakal berteduh bareng disini sama lo.”

Aska hanya diam melihat hujan tanpa menoleh ke arah Leviosa. Tentu saja melihat muka senga Aska yang tak menjawabnya membuat Leviosa kesal.

  “Lo gak mau minta maaf sama gue soal kejadian dikantin tadi? Lo kan dorong gue, baju gue kotor buku gue rusak, gak mau tanggung jawab apa” lanjut Leviosa dengan sedikit mengeraskan Suaranya. Tapi tetap saja Aska masih diam.

“Hello ada orang disini lagi ngomong.. woi.. gila yah ni orang emang sarap, gue sejenis hantu yang kasat mata sampe gak didengerin” gerutu Leviosa

Aska akhirnya memalingkan pandangannya pada leviosa dan melepaskan earphonenya.

“Kamu ngomong sesuatu?” tanya Aska dengan wajah datarnya. Leviosa benar-benar kaget.

“what?.. wah wah.. lo dari tadi gak ngedengerin omongan gue?” tanya Leviosa dengan marah.

  Aska membalas dengan tatapan dingin. Leviosa yang mendengar itupun menggurutu di dalam hati “jangan-jangan bener kata orang-orang kalo dia itu alergi sama cewek.”

Leviosa memandang Aska dengan tatapan dingin juga dan nanya dengan polos “Lo gay yah?”

Mendengar itu Aska menatap Leviosa tajam. Tanpa kata Aska langsung mencium bibir Leviosa.